Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2018

Review Woven Wrap Merk Little Frog

Oktober 20, 2018 0 Comments
Hai, hai emak penggendong, selamat pagi!

Assalamualaikum, piye kabare? Semoga selalu sehat dan riang gembira bersama buah hati. Jadi, ceritanya ini saya mendapatkan pinjaman woven wrap (WW) selama seminggu dari teman yang sangat baik hati di komunitas Samarinda Menggendong.


WW warna biru merk Liitle Frog ini memang sedikit bersinar, agak terlihat aura mahalnya, jadi atuuut mau pinjamnya, haha. Tapi rasa penasaran tetap menggelayut dan akhirnya saya putuskan untuk memboyong gendongan ini ke rumah.



Woven Wrap Merk Liitle Frog

Sebelum dapat pinjaman gendongan, sebenarnya saya sudah  tertarik ingin membeli WW. Namun memang belum dapat ACC dari mas suami dengan dalih bahwa sudah ada gendongan di rumah yang masih mumpuni (laki-laki memang tidak mengerti pesona gendongan yang berbeda-beda tiap jenisnya).

Akhirnya saya mentoklah berharap pada Samarinda Menggendong untuk bisa sekadar icip-icip agar tidak kepuhunan (ini istilah orang Samarinda kalau menginginkan sesuatu harus dituruti agar tidak celaka,haha).

Foila, WW berwarna biru Little Frog sudah di tangan, hihi, terima kasih ya mbak Mindy, sudah mau meminjamkan saya WW nya yang cantik ini.


WW Little Frog. Foto: www.instagram.com/Samarinda Menggendong

Cuantik kan warnanya? Saya memang langsung melirik WW warna biru yang sempat jadi inceran banyak emak-emak di sana. WW ini memang terasa lebih lembut dibandingkan dengan WW buatan sendiri (DIY) yang sempat juga saya coba di sana.


WW DIY yang terbuat dari kain katun tersebut memiliki motif batik yang juga cantiiik banget, namun dengan panjang kain yang hanya 3 meter membuat saya kesulitan untuk mengkreasikan bentuk lilitan.



WW DIY yang saya coba di kopdar Samarinda Menggendong. Foto: www.instagram.com/Samarinda Menggendong

Dari segi harga, WW DIY bisa dipatok antara 200-300 ribuan sedangkan WW Little Frog rata-rata di atas 800 ribu rupiah. Semakin panjang ukuran kainnya, maka semakin mahal juga harganya. Untuk gendongan WW warna biru yang saya pinjam ini kemungkinan harganya berkisar 900 ribu rupiah. Hem, lumayan mahal yak, setara anggaran makan indomie anak kosan selama sebulan nih.

Deskripsi Produk Woven Wrap Little Frog


Panjang kain: 4.7 m

Ukuran: 6
Gramasi; 220 gsm
Origin of Country: Poland
TB/BB Ibu: 155 cm/60 kg
TB/BB Anak: 82 cm/8 kg

Kualitas WW Little Frog ini memang sudah tidak perlu diragukan. Kainnya lembut namun kuat adalah pesona utamanya.

Saat mencoba WW ini dengan tehnik FWCC (Front Wrap Cross Carry), sisa kain gendongan masih lumayan panjang, jadi kemungkinan untuk ukuran 5 sudah cukup untuk memfasilitasi bentuk kreasi wrap yang diinginkan. Tapi, ini masih tergantung lagi ya pada besar anak dan penggendongnya.

Keterangan gramasi pada deskripsi di atas adalah berat kain per satuan gram/m2. Gramasi kain ini termasuk ringan dengan panjangnya yang hampir 5 meter.


Beikut foto saya saat menggunakan WW bersama anak sebelum jalan sore.



Saya dan bocil di depan rumah. (dokumen pribadi)


Rasa WW untuk  Saya

Bagimana ya menuliskannya, dari segi nyaman dan enak jelas jawabannya adalah iya. Namun, memang WW tidak menonjolkan fungsi kepraktisan sebagaimana SSC yang mudah dilepas dan dipakai kembali. Jadi, buat saya, gendongan WW memang memilik pesona tersendiri bagi para wrapper yang belum saya pahami 100%.



Yap, begitulah review singkat kali ini. Semoga nanti bisa dapet pinjaman gendongan lain ya, hihi. Untuk kedepannya, saya mengincar gendongan jenis onbuhimo, gendongan yang diadaptasi dari negeri Jepang (untuk lebih jelasnya baca artikel saya yang ini). Sekian, terima kasih.










Minggu, 16 September 2018

Kulwap Bareng Hanny Dewanti: Rahasia Inspirasi dalam Ridho Suami

September 16, 2018 0 Comments

Dear my friends,

Setelah sekian lama saya berjuang melawan lupa perihal setoran untuk ODOP99, akhirnya hari di mana saya kembali bergabung sudah tiba, yeay. Pas banget momennya dengan  kulwap bareng Hanny Dewanti, emak-emak penulis yang ah, warbiasah banget lah.

Kalau udah ketemu emak-emak macam ini, iri dan dengki saya langsung muncul. Kok bisa sih sukses tapi tetep rendah hati? (saya aja yang masih remah-remah rengginang udah bisa songong).

Kan ya seharusnya makin tinggi levelnya, makin mudah untuk tinggi hati. Dengan koneksi yang lebih bagus, berkah finansial dan follower yang banyak, ya harusnya membuat diri ini minimal agak berlagak lah, tapi ini malahan makin bersih visi misi menulisnya. Hiks, iri sayaaa.


Hanny Dewanti

www.facebook.com/Hanny Dewanti


Mak-emak yang penasaran dengan tulisan-tulisan Mak Hanny, bisa dicek di fb nya

Gimana mak, renyah banget ya tulisannya? Buat saya tulisan Mak Hanny ini ibarat popcorn karamelnya XXI: manis, mudah dicerna, mengenyangkan, dan nagiih. Tulisan belio di FB kerap berisi tentang nasehat dalam menghadapi konflik rumah tangga. Dari tulisannya sih bisa disimpulkan bahwa Mak Hanny ini pernah mengalami masa-masa yang sulit bersama pasangan, namun berhasil bertahan dan akhirnya bisa berada di tangga yang tinggi seperti sekarang, saluut.

Tulisan Hanny Dewanti yang berasa nampar buat saya yakni tentang rido suami. Saya seringkali ngerasa kalau aturan kita apa-apa serba rido suami, patriarki banget lah (maaf ya, saya terlalu banyak baca artikel feminisme, haha). Namun, tulisan tulisan Hanny Dewanti ini kembali mengingatkan kita pada fitrah agama tentang di mana seharusnya seorang istri berada, yakni dalam dekapan, eh dalam rido suami.

Menurut Mak Hanny, dalam rido suami itulah terletak kebahagiaan yang hakiki. 

Kulwap ODOP bersama Hanny Dewanti


Di awal kulwap, identitas Mak Hanny digelar dengan gamblang dan saya senang gegara domisilinya sama dengan saya, yakni Samarinda, yeay. Semoga semangat dan niat baik Mak Hanny dalam menulis bisa tertular.

Rahasia di balik tulisan Mak Hanny yang terkesan 'nyablak' dan sangat enak dibaca ialah pengandaian semua pembacanya sebagai sahabat. Jadi dengan visi seperti itu, ia berusaha agar tulisannya tidak terkesan menggurui, namun lebih kepada ajakan kebaikan pada seorang sahabat.

Ada satu hal yang saya sangat salut dengan mak ini. Dengan jelas Mak Hanny mengatakan, menulis bukanlah proses yang mudah. Ada temannya yang juga menekuni bidang kepenulisan, namun tulisannya tak jua membuahkan hasil. Ia mulai depresi dan bahkan perlu mengkonsumsi obat antidepresan. Karena alasan itulah, visi misi menulis yang sarat dengan hal-hal yang pamrih perlu segera dirubah.

Menurut Mak Hanny, ubahlah visi misi menulis untuk sekedar berbagi kebaikan agar kita tak pernah peduli dengan komentar dan feedback yang didapat, karena feedback itu datang dari kepuasan di dalam diri.

Satu hal lagi yang penting dalam menulis ialah riset. Menurut Mak Hanny, satu karya buku paling enggak memerlukan riset dari 10 buku. Itu jumlah minimal ya. Saya mendadak ingat dengan salah satu postingan di IG yang menyebutkan bahwa karya Origins Dan Brown itu tercipta setelah penulisnya membaca 100 buku sebagai referensinya. Uwoow! Makin berasa jadi remah remah rengginang, hiks.

Fiksi atau Non Fiksi?

Wattpad.com/Honey Dee

instagram.com/Hanny Dewanti

Jadi, setelah kulwapnya rampung, Mak Hanny membuka GA dan kita disuruh memilih di antara dua bukunya ini: Rooftop Buddies atau Hijrah Sakinah. Ga bisa nih dapat dua-duanya aja Mak, haha?


Baiklah saya memilih Hijrah Sakinah. Awalnya saya condong ke Rooftop Buddies, namun sepertinya karya Mak Hanny yang ini bisa diintip di app Wattpad. Jadi saya berpindah hati ke Hijrah Sakinah. Apalagi Mak Hanny sempat bercerita tentang banyaknya sumber riset yang dipelajari saat menulis buku ini, rasanya saya semakin mantap memilih buku non fiksi ini.

Et, tapi setelah mengintip Wattpad, ternyata hanya prolognya saja yang tersedia di sana, hiks. Gimana ini ya, saya makin galau. Prolognya gantung tepat di saat petualangan baru dimulai, huwaaa.

Padahal dari prolognya yang sangat singkat itu, bisa ditebak cerita buku ini pasti akan seru dan sarat makna. Apalagi, isu suicide memang sedang terangkat gegara beberapa artis dan figure publik internasional sempat diberitakan melakukan bunuh diri berturur-turut dalam tempo waktu yang singkat. 
instagram,com/societyfeelings
Saya sempat melakukan riset untuk bahan menulis artikel mengenai isu bunuh diri. Ternyata, silent disease macam ini juga banyak menyerang kalangan ibu-ibu, loh. Namun, terlalu banyak yang tidak tercatat lantaran depresi belum dianggap sebagai penyakit yang layak mendapatkan perawatan oleh ahlinya. 

Saya rasa Radio Romance (drama korea) juga dapat menjadi ilutrasi yang bagus mengenai penyakit depresi di kalangan artis. Drama tersebut menggambarkan penderita depresi sebagai manusia yang sedang membangun penjara bagi dirinya sendiri. Ia ingin keluar dan diselamatkan namun ia tidak tahu caranya. Beruntung, tokoh tersebut menemukan cinta pertamanya yang ia sangat percayai. Tokoh inilah yang akan membimbingnya untuk bisa lepas dari penjara yang mengkungkungnya. Ealah, malah jadi cerita drakor deh.

Baiklah, saya mantap pilih Rooftop Buddies, tapi......  , baiklah, Rooftop Buddies. (saya sudahi tulisan ini sebelum mengetik kata tapi yang kedua kalinya)

#jumatkulwapodop #hannydewanti #hijrahsakinah







Minggu, 25 Maret 2018

Mengenal Eka Kurniawan dan Pesonanya Dibalik Karya "Cantik Itu Luka"

Maret 25, 2018 0 Comments
Saya malu rasanya untuk menulis ini, belum pernah baca novelnya sampai selesai tapi berani untuk menulis tentang pribadi mas penulis yang satu ini. Namun, tangan rasanya gatal sekali untuk sekedar ingin menulis sedikit kesan singkat tentang wawancara singkat Eka Kurniawan bersama kru Mojok. Maka, punten yak penggemar Eka kalau apa yang saya tulis mungkin terkesan sok tahu, hihi.

Duh, ini adalah salah satu video talkshow yang saya sukaaa banget. Acaranya santai, penuh canda tawa, namun tidak kehilangan bobot. Ciamik lah.

Bahkan saya mendadak penasaran dan ingin segera menyelesaikan baca bukunya mas Eka ini. Karakternya yang seloroh dan apa adanya membuat saya semakin penasaran dengan karya yang telah ia buat.

Ada satu hal yang mengusik saya sebagai emak-emak yang juga bercita-cita untuk menjadi penulis kece. Mas Eka mengungkapkan bahwasannya seluruh jajaran penulis besar pasti pernah merasakan menulis adalah perkerjaan yang terasa  sangat menyakitkan, psikis dan mental. Bahkan mas Eka berkata bahwa menulis itu berat, biar kami saja (Mas Eka ternyata ikut terdilan).

Mas Eka sih ngakunya tetap bertahan pada dunia menulis karena hanya bisa melakukan itu, namun menurut saya bukan. Aih, saya sok tahu ya, tapi mas Eka pastilah udah kepincut dan mungkin sudah tidak ingin jatuh cinta pada bidang lain.


pixabay.com

Kisah mas Eka untuk berjaya seperti sekarang jelas tidak mudah. Setelah mengeluarkan dua novel, ia masih merasa kok begini-begini aja, bahkan ia sempar berpikir mungkin menulis bukanlah jodoh saya.

Mas Eka juga bertutur bahwa pada novel pertama yang ia buat yakni Corat coret di Toilet, ia mendapat komentar yang sangat tidak enak. Penulis novel macam ini, pasti akan hilang pelan-pelan dan akan mulai bekerja harian di kantor, begitu kata komentatornya.

Yap, satu hal yang membuat saya takjub pada mas Eka ialah konsistensinya. Para penulis yang udah jaya dalam talkshow ini menuturkan pernah mengalami masa-masa ekonominya sempat terhimpit. Pedihnya, karyanya masih belum menghasilkan. Tapi toh, mereka tidak banting setir untuk pindah ke laih hati. 

Mungkin bagi mereka menulis sudah seperti candu atau sabu atau minimal indomi versi mereka sendiri, eeeaaa. Selamat menikmati videonya dan selamat terkikik sambil terinspirasi ya bu-ibu!





Rabu, 07 Maret 2018

Review Buku Bokis, Potret Perjalanan Terjal Seorang Jurnalis Dunia Hiburan

Maret 07, 2018 0 Comments
Ada satu quote dalam prakata buku ini yang saya suka, " Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita akan memperpanjang barisan perbudakan." Wiji Thukul.

bukalapak.com

Judul           :      1. Bokis, Kisah Gelap Dunia Seleb
                          2. Bokis, Potret Para Pesohor, Dari yang Getir Sampai yang Kotor
Pengarang    :       Maman Suherman
Penerbit      :       Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit :       2012 

Buku ini adalah salah satu buku temuan di aplikasi Ipusnas yang paling asyik. Haha, saya memang lagi keranjingan banget baca buku di Ipusnas. Terdiri dari dua seri, buku berjudul Bokis ini mengupas tuntas sisi hitam di balik gemerlap panggung dunia hiburan, uououo.

Jadi artis itu memang enak banget dah, kaya, terkenal pula. Tentu hal ini menjadi semacam trending yang membuat ngiler banyak orang. Namun, sudah seperti dugaan banyak orang pula, dunia selebriti memang berat, dan tak sekedar melulu soal bakat. Perlu banyak pengorbanan untuk bisa tampil di layar kaca, mulai dari penggadaian harta benda bahkan harga diri.

Buku ini ditulis dari sisi seorang jurnalis. Terdiri dari banyak contoh kasus yang sedikit banyak akan membuat kita, rakyat jelata, akan berpkir ulang mengenai hasrat untuk menjadi artis. 

Ada satu kisah yang benar benar menempel dalam ingatan saya. Si penulis ceritanya sedang meliput kasus perceraian seorang artis terkenal. Peceraian artis memang menjadi bahan apik untuk ditulis seorang jurnalis, namun mencari beritanya mesti melewati banyak rintangan termasuk caci-maki narasumbernya. 

Lewat telepon, si bos dari kantor sudah teriak-teriak menuntut untuk mendapatkan liputannya, namun yang ia dapat hanyalah omelan panjang dari ibu narasumber.

Hujan mulai mengguyuri pundak lelah sang penulis. Waktu itu ,ia masih bertahan di rumah narasumber, tepatnya di luar pintu pagarnya.  Berharap bisa mendapatkan ruang untuk berteduh dari hujan, ia kembali memanggil ibu narasumber lewat pintu pagarnya,

Daaan, adegan ini yang saya suka, si ibu narasumber keluar rumah dan kembali mengomel, sambil berkata begini, "Tolong ya mas, pagar anak saya ini terbuat dari stainless steel, kalau mas pegang pakai tangan mas nanti jadi karatan." Jderr.

Sang penulis terdiam, ia memutuskan unuk pulang dalam hujan. Air matanya mengalir dalam diam bersama rintik hujan yang jatuh di wajah lelahnya. Aih, saya rasanya jadi ikut sedih saat membaca bagian ini. Terasa sekali, bahwa selama menjadi jurnalis, peristiwa ini adalah salah satu tamparan kejam yang masih ia ingat sampai sekarang.

Selain itu, banyak juga kasus lain yang tentu menarik untuk diketahui. Mulai dari usaha sampingan artis untuk menciptakan gosip supaya pihak klien terdongkrak namanya sampai usaha sampingan seperti menjajakan diri. 

Yah, saya suka sekali dengan gaya bahasa buku ini yang santai. Sang penulis berhasil membawa kita dengan  nyaman sampai ke ujung cerita tanpa merasa kebosanan. 

Selamat membaca bu-ibuk.




Rabu, 28 Februari 2018

Ipusnas, Aplikasi Mini yang Membuat Perpustakaan Menjadi Dalam Genggaman

Februari 28, 2018 0 Comments
Haha, malu rasanya baru mengulas aplikasi ini sekarang. Ketahuan banget kudetnya. Tak apalah ya kan, semoga masih ada yang bisa mengambil manfaat dari ulasan ini.

ipusnas.id


Apa sih Ipusnas?

Ipusnas adalah perpustakaan nasional RI dalam bentuk aplikasi di hp. Enak banget kan? Jaman kuliah dulu, saya merasa beli buku adalah kebutuhan pokok yang menjadi nomor satu. Namun setelah menikah, ternyata buku adalah kebutuhan tersier yang harus terus mengalah. Belum lagi, harga buku yang terus meroket, aiiih.

Nah, Ipusnas memang sudah kayak slogannya pegadaian, "Mengatasi masalah tanpa masalah", ia bisa memuaskan hasrat membaca tanpa memberatkan budget bulanan. Sangat apik lah untuk menjawab masalah harga buku yang terus meroket tak karuan kayak harga beras dan cabe. Sudah begitu, koleksi bukunya pun lebih dari 20 ribuan. Nah lo, silakan bu-ibuk untuk mantengin Ipusnas saja di smartphonenya, jangan mantengin video Bu Dendy saja ya. 

Napak Tilas Ipusnas

Ipusnas sudah diluncurkan sejak tahun 2016. Selain Ipusnas, banak sekali aplikasi lain yang sejenis sesuai dengan daerahnya masing-masing. Karena saya tinggal di Samarinda, nama aplikasi perpusnya I-Kaltim. Bahkan, ada salah satu akun di instagram yang juga merekomendasikan untuk menginstal I-Jak, aplikasi perpustakaan Jakarta. Tapi, menurut saya sih, cukup Ipusnas saja sudah sangat memuaskan.


Koleksi Buku Digital Di Ipusnas

Sebagi pengguna baru Ipusnas, saya merasa sangat kecanduan, haha. Bagaimana tidak, koleksi Agatha Christie melimpah ruah, hampir lengkap. Saat saya mulai merasa bingung mau masak MPASI apa buat dedek bayi, tinggal lihat Ipusnas. Bingung mau tutorial dandan ke kondangan, ada bukunya di Ipusnas. Huah, benar-benar ketjeh lah, terima kasih Pak Menteri Pendidikan.

Tertarik Mengintal Ipusnas?

Untuk menginstal Ipusnas, bu-ibuk hanya perlu cari aplikasinya di Play Store hp masing-masing. Aplikasi ini bukan hanya berguna untuk baca buku lo, tapi juga bisa untuk saling berhubungan sesama pengguna Ipusnas. Jadi, bisa saling share dan komen tentang buku yang sedang dipinjam. Cara mendaftar di aplikasi ini pun hanya dengan email, mudah banget lah.

Lama buku yang dipinjam biasanya 2 hari, jadi untuk baca buku yang rada berat kaya buku Marie Kondo yang kemarin saya buat reviewnya, saya meminjam sampai 2 kali periode. Yah, gak beratin kuota kok, karena tetap lebih banyak paket data yang terkuras saat streaming film Korea.

Selamat membaca ya bu-ibuk.




Cari Blog Ini

Aliran Rasa Bunda Cekatan 2020

Dear, Kali ini saya membuat aliran saya dengan telat. Sayang sekali.  Tapi saya tetap ingin membuatnya sebagai selebrasi perjuangan...

Follow Us @soratemplates