Minggu, 10 Februari 2019

Perjalanan Wisata Mengingat Masa Muda di Perpusda

Februari 10, 2019 0 Comments
Perpustakaan sebagai wisata keluarga
pexels.com

Hari Sabtu ini, saya mendadak gelau sepulang jalan-jalan dari perpustakaan. Kok bisa? Lantaran di sana banyak banget mahasiswa yang membuat saya iri setengah mati, geliat rasa lelah gegara drakor tugas, rasa sibuk menjelang ujian, sampai perasaan senang ditemani menyusun skripsi bareng doi (saya jomblo ketika kuliah, jadi gak sempat merasakan poin yang terakhir).

Perpustakaan Daerah Kalimantan Timur

Perpustakaan ini terhitung luas, memiliki 3 lantai dengan ruangan yang amat banyak. Lantai pertama, ada ruang baca anak, ruang majalan, ruang internet, WC, dan kantin. Di lantai dua ada buku-buku literatur seperti metode penelitian, buku kesehatan, akuntansi, dan semua tetek bengek perkualiahan lah. Di lantai tiga-lah, saya sering berpesta sendiri, tempat di mana banyak novel gratis bisa dibaca sampai puas anak minta pulang.

Di lantai satu, ruang baca anak, saya dan tim (mas misua dan bocil) sering mangkal. Di sini tempatnya sangat nyaman, karena ada karpet, full-Ac, dan juga ada ruangan menyusuinya. Bahkan ada juga tempat bermain untuk anak, ada rumah-rumahan plastik dan seluncuran juga. Pokoknya, nyaman bangat lah. 

Meski koleksi buku anak versi boardbook tidak terlalu banyak (meski ada, kadang banyak yang sudah rusak), tapi semua terbayarkan oleh tempat yang sangat nyaman begini. Nongkrong di perpustakaan memang jadi opsi yang menyenangkan bagi keluarga kami untuk melewati hari akhir pekan ketika tanggal tua. Ngirit Mak.

Di lantai dua, karena memang banyak buku tetek bengek perkuliahan, maka disini didomiinasi anak kuliahan dan pelajar. Hari ini saya mendadak terkena nostalgia, ketika melihat segerombolan mahasiswa sedang ribut mendiskusikan satu hal. Seingat saya, saya tak pernah sesemangat itu saat berada di perpustakaan ketika kuliah. Saya selalu mendadak ngantuk kalau sedang di sana. Gegara mereka yang berisik itulah, saya jadi penasaran dan mengelilingi rak-rak buku di lantai dua hari ini.

Ternyata, hanya karena kepo, saya menemukan ada banyak hal menyenangkan yang bisa dilihat. Mulai dari diskusi antara geng lelaki yang tersembuyi di balik rak buku paling belakang, yang hampir saya yakini bukan mendiskusikan tentang pelajaran. Kemudian, ada juga sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat membagi senyum manis dari masing masing-masing saat mencari buku bersama di rak, hahaha. Masa muda memang masa yang berapi-api. Dan ada juga sekelompok mahasiswa yang sedang asyik mencatat poin pelajaran dalam buku tulisnya, asyik sekali.

Kembali ke Realita

Setelah saya menemukan buku yang menarik minat hati, saya memutuskan kembali ke ruang anak, di mana mas misua dan bocil sedang bermain bersama. Cukup mengasyikkan juga mengamati perilaku anak anak muda karena selama ini yang saya lihat sehari-hari hanya anak bayi dan 1 lelaki paruh baya yang guanteeeng, hahaha.

Ketika sedang jenuh dan mencuci piring berasa jadi siksaan romusha, mungkin ada baiknya berhenti sejenak. Buka YouTube, dan streaming gerakan yoga ringan, atau jalan jalan bersama emak emak lain ke mal buat nobar, atau juga sekadar membaca buku. Rehat buat ibu rumah tangga adalah poin penting agar bisa melihat visi dan misi penting di balik rutinitas cuci piring yang terlihat sepele.

Sekianlah random thought saya hari ini. Selamat rehat.


Kamis, 31 Januari 2019

Aliran Rasa Game Level 5: Menstimulasi Anak Gemar Membaca

Januari 31, 2019 0 Comments
Menstimulasi anak gemar membaca

Dear emak-emak

Akhirnya, setelah saya membolos di aliran rasa yang ke 4 gegara riweuh pulang kampung, sampai juga perjalanan belajar ke game selanjutnya, menstimulasi anak gemar membaca.
Dibandingkan game level lainnya, rasanya game ini agak berbeda, karena membaca adalah hobi sekaligus pengisi me time saya di kala bocil lagi bobo. di kala bermain pun, saya sering  terlihat baca buku, sehingga bocil dengan mudah tertular untuk mengikuti kebiasaan ini. Tantanganya justru terletak pada mas misua.

Kisah game level 5

Kisah Bocil. Saya sudah sering membacakan buku setiap momen sebelum tidur. Kadang di waktu bermain, saya dan bocil juga sering melakukan kegiatan membaca bersama, tepatnya sih saya yang membacakan.

Reaksi yang bocil tunjukkan saat sedang dibacakan bervariasi. Kadang terlihat sangat antusias kadang juga bosan dan melipir untuk mengambil permainan yang lain.

Peristiwa lucu yang saya ingat ialah ketika saya menjelaskan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam. Ia menunjuk gambar masjidnya sambil bilang gol gol. Jadi, ceritanya itu, tiap sore bocil dan saya sering nonton pertandingan futsal anak-anak di halaman belakang masjid dekat rumah. Jadi, setiap dia lihat masjid di bukunya, ia malahan teriak gol.

Kisah Saya, as emak-emak.Untuk saya kegiatan membaca masih terus berjalan meski ya tersendat karena banyak film Korea baru, hahaha. Buku terakhir yang saya baca berjudul Saman dan reviewnya bisa dibaca di blog saya yang ini. Beberapa pekan terakhir ini, saya membaca bukunya Ayu Utami.

Warbiasah banget ya emak yang satu ini. Keren banget lah buku-bukunya. Ia berani menunjukkan nilai-nilai atau peristiwa yang selama ini tabu untuk didiskusikan. Di bukunya Saman, ia banyak membahas tentang bagaimana orde baru menggilas banyak HAM rakyatnya sendiri. Di bukunya Bilangan Fu, Ayu Utami banyak membahas perihal takhayul khas Indonesia beserta maknanya yang menurut saya diulas beliau dengan sangat mendalam sekaligus menarik.

Berikut adalah cuplikan kalimat dalam bukunya mak Ayu,

"Takhayul memiliki tujuan yang lurus, tapi tidak jalan yang lurus.
Sedangkan modernisme memiliki jalan yang lurus, tapi tidak tujuan yang lurus."

Contoh takhayul penunggu hutan, memiliki tujuan agar manusia tak mengeruk hutan secara membabi buta. Sedangkan modernisme seirngkali hanyalah alat kepentingan individu, sedangkan takhayul adalah alat untuk kepentingan bersama.

Kisah Mas Misua. Agak susah menularkan suka baca sama mas misua, mungkin karena memang bukan hobinya. Tapi kan ya, sesuai sama  kata-katanya mbak Najwa, cukup temukan satu buku yang akan membuatmu jatuh cinta. Pada awalnya ia tak pernah suka kalau diajak ke perpusda, namun sekarang ia sudah bisa menikmati karena sudah menemukan genre buku yang ia sukai. 

Yah, itu sih aliran rasa saya di game kali ini. "Bisa membaca adalah sebuah keberkahan, dan suka membaca adalah sebuah kebahagiaan" Goenawan Muhammad. Yuk, mak-emak digas teroos semangat bacanya!!

Minggu, 27 Januari 2019

5 Oleh-Oleh Manis dari Makassar

Januari 27, 2019 0 Comments
Akhir tahun 2018 kemarin saya habiskan di rumah kelahiran mas misua, Makassar. Dibandingkan Samarinda, jelas kota Makassar sudah jauh melangkah menjajaki level metropolitan lebih dahulu dengan tajamnya rasa macet plus panas yang gak ketulungan.

Berada di lokasi strategis sebagai gerbangnya Indonesia Timur, Makassar tumbuh persis seperti Surabaya, gerah gegara aktivitas pabrik dan kemacetannya. Yah, untuk sebuah kota yang maju memang inilah harga yang harus selalu dibayar.

Sebenarnya di balik itu semua, kota Makassar tetap punya pesona yang membuat saya selalu rindu. Selain Pantai Losari-nya yang ternyata di bawah ekspektasi, ada banyak hal lain yang justru jadi tumpuan kerinduan buat saya ketika kembali ke Samarinda.

1. Kampoeng Poepsa

Kampoeng Poepsa
Pemandangan kafe Kampoeng Poepsa: siluet aktivitas pelabuhan di kala senja.

Awalnya saya agak memaksa mas misua sih supaya mau nongkrong saat senja di kafe yang menghadap laut seperti Kampoeng Poepsa ini. Terletak tepat di samping pelabuhan, membuat pemandangan kafe ini benar benar manis. Perahu yang tertambat, matahari senja, dan angin pantai semilir membuat momen nongkrong semakin asyik. 

Cocok banget sih ini jadi tempat nulis atau sekadar nongkrong merenungi hidup, hahaha. Soalnya, tempatnya enak plus punya menu yang buanyaaak banget, jadi bisa betah berlama-lama.

Berhubung saya ke sininya bawa bocil, jadilah kami berdua gak kaya pasangan anak muda lain yang bisa bercengkrama romantis sambil minum es kelapa. Kami bergantian menemani bocil yang  tidak berhenti bergerak. Bocil terus merengek minta ke pinggir dermaga, dan begitu es kelapanya datang ia mendadak ambisius untuk minum kelapa tanpa sedotan, langsung pakai tangan (Indonesia banget). Omaigat! 

2. Mal Gaya Industrialis.

Mal Nipah Makassar
Mal Nipah, salah satu mal yang punya konsep bangunan bergaya industrialis.


Mal Nipah Makassar
Langit-langit mal yang begitu unik.

Nama mal ini adalah Mal Nipah. Btw, mal ini dibangun oleh Kalla grup loh, grup perusahaannya bapak wapres, Jusuf Kalla. Kalla Grup memang banyak menguasai aset penting di Makassar. Salut lah sama bapak wapres, enterpreneur sejati!

Mal Nipah ini agak lain dibandingkan mal lainnya. Dengan bangunan yang bergaya industrialis, ditambah dengan konsep open space, membuat saya ketagihan datang ke sini. Di atap malnya pun ada mushola plus taman yang kece banget. Kalau tujuan ke mal cuman untuk cuci mata, mending datang ke sini aja.

Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan berkunjung ke Mal Nipah dalam kondisi hujan. Berhubung konsep mal Nipah adalah open space, jadi kita bisa sedikit menonton hujan dari dalam mal. Ada semacam saluran air yang membuat hujan jadi semacam air terjun mini di dalam mal lantai dasar. Tapi sayangnya saya gak punya fotonya, maaf yak. 

3. Ketagihan Pecel

Meski bukan daerah asli pecel, justru di Makkasar saya menemukan pecel yang nagih banget.

Di dekat rumah, ada penjual pecel yang laris. Ketika saya membeli pecel, emak-emak yang ngantri sudah banyak dan ketika itu sambel pecelnya habis. Jadilah saya yang masih terlihat muda dibandingkan yang lain menjadi tumbal untuk membantu ibunya membuatkan sambel pecel. Kapan lagi kan merasakan jadi asisten pedagang pecel.

Sebenarnya definisi pecel di sana agak berbeda dengan pecel kebanyakan. Kalau biasanya, pecel itu adalah nasi plus sayur yang disiram dengan sambal kacang, di sana tak ada nasi, sebagai gantinya adalah potongan lontong. Makanya saya bilang kalau definisi pecel di sana agak berbeda, lebih mendekati gado-gado kan ketimbang pecel.

Btw, penjualnya itu asli Jogja, dan beliau berjualan untuk membiayai kuliah anaknya. Salut saya sama beliau ini, yang bisa survive di Makassar dan bahkan mampu berbahasa Bugis. 

4. Joging Pagi di Sepanjang Jalan Raya 

Ilustrasi jalan raya.

Sebenarnya sih ini hanya pengalaman pribadi yang tidak termasuk dalam list tempat wisata. Kalau tempat jogging yang ramai, biasanya ada di  pinggir Pantai Losari setiap hari Minggu. Ada event Car Free Day setiap Minggu pagi, jadi jalanan sepanjang pantai akan ditutup untuk kendaraan.

Kembali ke topik. Rumah suami saya terletak di tengah kota, jadi agak susah untuk bisa menentukan rute yang sepi untuk jogging. Tapi ternyata, jalanan tengah kota pun bisa jadi pilihan yang baik untuk trek jogging.

Tepat setelah sholat subuh, saya dan suami, tanpa bocil, memutuskan untuk jogging di jalan-jalan raya yang masih sepi. Ditemani udara Makasar yang ternyata bisa juga terasa sejuk. Matahari yang masih sembunyi, membuat pemandangan pagi semakin manis dalam balutan warna kelabu. Sambil berlari, kami mengobrol tentang hal yang tak jelas, mulai dari tabiat bolosnya ketika masih bocah sampai tentang kamvret dan kecebong.

Saya cukup kaget karena ternyata ada banyak orang lain yang juga jogging sepagi ini. Ada bapak tua bersama sepedanya ada juga mbah-mbah sehat yang terlihat lebih kuat stamina larinya dibandingkan kami yang masih muda ini. 


5. Coto Gagak yang Melegenda

Coto Gagak
Mas Misua yang sedang khilaf di warung Coto Gagak

Ini dia destinasi kuliner yang hampir pasti didatangi setiap orang yang sedang bertandang ke Makassar: Coto Gagak. Kuliner ini adalah Coto Makassar seperti biasa yang terletak di Jalan Gagak.

FYI, Atta Halilintar pun datang ke sini loh pas doi lagi main ke Makassar (informasi yang tak berfaedah).

Coto Gagak memang agak berbeda dengan coto lain yang pernah saya cicipi. Bumbunya yang terasa sangat tepat inilah yang membuat ia begitu terkanal. Saya juga agak kecanduan sih sama coto yang satu ini dan beberapa kali merengek supaya diantar jajan ke tempat ini.

Sekian cerita saya ketika di Makassar. Meski gak bisa bawa oleh-oleh seenggaknya saya bawakan oleh-oleh berupa cerita ga masalah kan? Btw, harga tiket pesawat sekarang mahal banget yak. Semoga harga transportasi alternatifnya seperti kereta dan kapal laut masih bisa stabil, sehingga tetap bisa rutin pulang kampung. 

Selamat travelling mak emak.


Rabu, 21 November 2018

Aliran Rasa Game Level 3: Meningkatkan Kecerdasan Anak

November 21, 2018 0 Comments
family project game level 3 kelas bunda sayang

Assalamualaikum wr wb,
Dear mak emak di seluruh dunia.

Saya rasa tidak ada seorang ibu yang tidak menginginkan anaknya tumbuh menjadi manusia yang memiliki kecerdasan utuh, baik emosional, intelektual, dan spiritualnya. Namun, terkadang kitalah yang menjadi hambatan berkembangnya kecerdasan anak dengan memberikan kasih sayang yang salah.

Kasih sayang yang salah dapat menjelma menjadi banyak bentuk, salah satunya memberikan perlindungan maksimal, sehingga ia tak terlatih untuk memecahkan masalahnya sendiri. Bisa juga kasih sayang itu menjelma menjadi aturan dan disiplin yang begitu keras, sehingga ia tidak pernah merasa dicintai.

Family project dapat menjadi menjadi salah satu cara, sarana, dan wadah dalam melejitkan kecerdasan anak. Kok bisa? Saya pernah membaca bahwa sebenarnya anak bukan mencintai mainannya, tetapi mencintai momen saat memainkannya. Momen menjadi hal yang begitu penting untuk memori sekaligus pengalaman manis untuk anak.

Family Project Sebagai Wahana Melejitkan Kecerdasan Anak

Tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama anak untuk belajar tata cara bersosialisasi. Jadi, keluarga yang hangat akan memberikan ruang yang baik demi terbentuknya kecerdasan anak.

Family Project adalah aktivitas yang dilakukan bersama sama seluruh anggota keluarga demi terwujudnya suatu tujuan tertentu. Awalnya, saya bingung kira-kira projek apa yang bisa diterapkan di keluarga kecil ini. Namun, ada satu kebiasaan yang memang telah sudah saya lakukan sejak lama kepada bocil yakni, membacakan dongeng sebelum tidur.

membacakan buku untuk anak sedini mungkin
Az-Zahra (18 bulan) sedang membaca buku emaknya.
Efeknya mulai terasa, dia mulai menjadi pribadi yang detail; ia suka memperhatikan pola celananya yang bergambar; ia histeris kalau diajak ke Gramedia; tapi efek yang paling menyebalkan sekaligus menggemaskan ya saat dia merebut buku saat emaknya membaca. Haha, pengen saya gigit pipinya, padahal buku yang saya baca tak bergambar dan pasti sangat membosankan untuknya tapi ia tetap ngotot untuk berusaha membaca buku itu.

Ada satu kejadian lucu selama fampro ini berlangsung. Ia lumayan menyukai tokoh Upin Ipin dan ia melihat gambar tersebut di sampah kemasan makanan ringan yang ditemukannya di jalan. Ia pungut sampah itu, sama sekali tak mau dilepas bahkan sampai dibawa ke kamar tidur. Setelah satu sesi bercerita saya lakukan memakai sampah itu, ia puas dan tak lagi mencarinya.

Family Project sebagai Sarana Pengikat dan Penghangat dalam Keluarga

Hubungan dalam keluarga memang rumit, jika dahulu sebelum menikah kita, terutama diri saya sendiri, tak malu malu untuk mengatakan maaf kepada calon suami jika berbuat salah, tapi saat ia sudah menjadi suami bibir mendadak kelu untuk mengatakan maaf. Kok bisa seperti itu ya?

Haha, tapi itu sudah berubah, saya sudah belajar komunikasi produktif (salah satu elemen penting dalam family project). Diperlukan bantuan dari semua pihak untuk bisa bahu-membahu mewujudkan family project, bahkan untuk satu goal kecil yang saya buat kali ini.
family project
www,instagram.com/rianandini999

Selain tujuan Bed Time Story yang sudah saya tulis di atas, sebenarnya ada alasan lain yang juga saya inginkan dari projek ini yaitu menanamkan cinta membaca pada dirinya sedini mungkin. Saya agak tergugah dengan kalimat ini: Semua anak akan bisa membaca pada waktunya, tapi tak semua bisa mencintainya. Saya lupa ini kalimat dari mana dan siapa, jadi maaf ya tak bisa dicantumkan sumbernya.

Saya ingin ia menjadi pribadi yang tak pernah berhenti belajar, karena itu bantuan dari mas misua pun teramat penting. Saya cukup senang karena sekalipun mas misua tidak begitu suka membaca, ia tetap semangat menjadi bagian dari projek ini. Saat saya sakit, ia yang mengambil alih sesi bercerita itu dengan membelikan gambar poster hewan untuk bocil.

Secara tak langsung rasanya saya jadi semakin jatuh cinta pada mas misua yang selalu belajar dan memberikan yang terbaik pada bocil. Yah, walaupun dongeng yang diceritakan kadang rada absurd, karena ia karang sendiri sesuka hati. Kadang, benar-benar absurd karena ia mengaitkan cerita bergambar hewan dengan cerita Liga Indonesia (dia maniak bola, jadi hampir selalu yang ia ceritakan ke bocil seputar tokoh tokoh sepak bola).

Familu Project sebagai Instrumen Visi Misi Keluarga

family project sebagai visi misi
Ilustrasi kerja sama dalam keluarga. Sumber : www.pexel.com

Awalnya saya menganggap bahwa berlebihan sekali untuk menetapkan visi misi dalam sebuah keluarga kecil. Haha, ternyata anggapan ini salah total. Tanpa tujuan dan visi misi yang jelas, maka hambatan akan terasa begitu besar.

Terkesan agak teori sekali ya kalimat saya di atas? Saya pun sebenarnya masih ragu untuk menuliskan subab family project terkait dengan peran sebagai instrumen visi misi dalam keluarga. Karena saya pun belum memiliki visi misi yang jelas terkait keluarga saya sendiri.

Namun, ada satu visi misi yang memang masih ada di dalam benak yakni mendidik anak menjadi generasi  yang kuat, mandiri, namun tetap memiiki spiritual yang baik. Dengan misi tersebut, saya berharap bisa mewujudkannya dengan menciptakan suasana keluarga yang hangat atau istilahnya keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Saya harap semoga ini benar-benar dapat diraih.


Keep learning, selamat malam emak-emak semua. Semoga bermanfaat.




Senin, 12 November 2018

5 Tips Untuk Mempercantik Blog Ala SEO-Friendly

November 12, 2018 0 Comments
Pernahkan teman-teman berkunjung ke suatu blog yang waktu loadingnya lumayan lama? Sudah begitu, ada tulisan bling-bling dan banyak widget (salah satu yang paling banyak dipasang ialah jam) yang sebenarnya tidak kita perlukan. 

Sebagai wannabe blogger pro, ternyata ada banyak sekali yang harus dibenahi dalam dunia per-blog-an, salah satunya ialah desain blog. Ada begitu banyak template blog yang tersedia, namun ada beberapa kriteria yang mesti kita pahami dahulu agar blog kita dapat dengan mudah dikenali di google.

Memangnya apa sih pentingnya mempercantik desain blog?


Mari memposisikan diri sebagai pengunjung yang ingin memperoleh informasi. Melihat iklan yang tak habis- habis, tulisan yang berkilauan dan loading laman yang lambat tentu akan membuat pengunjung ingin segera kabur dari blog kita.

Ibarat mantan yang ingin ngajak balikan; terus menerus mengirim chat, terus menerus merongrong dengan kalimat gombal, tapi tindakan semacam ini justru mendorong untuk semakin mantap menjauh, benar kan? #eeeaa (maaf ya, contohnya ga nyambung banget)

Tips untuk Mempercantik Blog agar SEO Friendly

1. Pastikan memlilih latar yang berwarna putih.

mojok.co

Banyak keuntungan yang didapat dengan memilih template berlayar putih. Salah satu tujuannya ialah membuat pengunjung dapat fokus pada konten tulisan yang disajikan dalam blog, sehingga memberikan pengalaman yang menyenangkan pada pengunjung dan berdoa saja semoga ini dapat meningkatkan posisi web kita di mata google.

2. Mengatur widget seminimal mungkin. 

carolinaratri.com

Saya dulu suka sekali memasang jam di blog dengan tujuan agar terlihat keren. Namun, rupa-rupanya ini sama sekali tak mempengaruhi tingkat ke-keren-an sebuah blog.

Blogger pemula macam saya, memang diwajibkan untuk sering mencontek gaya template para master blog. Mereka biasanya hanya memasang widget seperti popular post, about me, arsip blog dan tool telusur.

3.  Memposisikan widget di sebelah kanan. 

area widget
rianandini999.blogspot.com

Simpel banget yak? Haha, tapi ini gak kalah penting loh. Meskipun rata-rata template blog yang tersedia memang posisi widgetnya ada di sebelah kanan, tapi ada beberapa yang masih memasangnya di sebelah kiri.

Google biasanya menelusuri kata kunci dari sebelah kiri dahulu baru ke kanan. Jadi konten tulisan kitalah yang sebaiknya ada di sebelah kiri agar mudah terdeteksi oleh beliau.

4. Menyesuaikan niche blog dengan gaya template

lensabuku.com

Wah, ini hal sepele yang juga turut menyumbang apakah blog kita sedap dipandang mata. Misalnya, teman-temen memilih niche travelling, maka pilih template yang mendukung untuk memajang foto-foto cantik sebagai displaynya, dan jika temanya review buku seperti pada gambar, maka cukup pilih template yang sederhana namun tetap manis.

5. Gunakan template yang menjamin bahwa ia SEO Friendly.

gooyaabitemplates.com
Web Gooyabi template merupakan salah satu portal download yang disarankan untuk mencari template SEO friendly. Ada keterangan fitur template di sebelah kanan, seperti yang terlihat pada gambar.

Sudah deh, itu saja tips dari saya. Memangnya apa sih pentingnya SEO friendly itu? Dengan memanfaatkan  SEO, blog kita bisa ada di salah satu halaman yang disodorkan google pada pengguna saat mengetikkan keyword tertentu. Dengan begini, blog kita punya statisitk pengunjung yang tinggi tanpa perlu share di medsos, asyik kan?

disclaimer
Tadinya tulisan ini mau saya ikutkan lomba, berhubung deadline nya sudah lewat (tanggal 10 kemarin), maka dengan berat hati saya tetap merampungkan tulisan ini sebagai perayaan atas ngilmu ke mbak Carolina Ratri.



Rabu, 24 Oktober 2018

Aliran Rasa Kelas Bunda Sayang: Melatih Kemandirian Anak

Oktober 24, 2018 0 Comments
Melatih Kemandirian

Assalamuaikum,

Dear emak emak pembelajar yang saya sayangi, izinkan saya mengutip puisi Kahlil Gibran di sesi curhat perihal Kemandirian Anak kali ini :

Anak adalah kehidupan
Mereka sekadar lahir melaluimu
Tapi bukan berasal darimu
Walaupun bersamamu tapi bukan milikmu

Curahkan kasih sayang tapi bukan memaksakan pikiranmu
Karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri


Berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun

Waktu pertama kali membaca puisi ini di grup Kelas Bunsay, rasanya mak, mbrebes mili saya (istilah Jawa untuk meneteskan air mata). Rasanya seperti tidak siap untuk menghadapi fakta bahwa orang tua memang hanyalah media perantara layaknya petugas training. Ketika peserta sudah lulus, petugas training kembali ditemani sepi.

Hihi, saya malah mewek duluan. Padahal tema ini sangatlah penting untuk dibahas. Perihal kemandirian anak tentu adalah bekal wajib yang mesti diberikan orang tua pada buah hatinya. Cinta sebagai orang tua, semestinya memang menjadikan anak sosok yang kuat dan pribadi yang tangguh, terlepas ada atau dengan ketiadaan kita di sisinya. 

Ini motivasi awal saya untuk membenarkan pendidikan kemandirian sedini mungkin: agar ia senantiasa  tangguh, terlepas ada atau dengan ketiadaan kita di sisinya.  

Awal Perjalanan Latihan Kemandirian

Awalnya saya cukup kaget mengetahui bahwa latihan kemandirian bisa dimulai bahkan saat usia 12 bulan. Rasanya kok masih terlalu bayi ya untuk memulai hal seperti ini, begitu pikir saya waktu itu. Namun, saat negara api puisi di atas menyerang, semuanya berubah.

Saya agak bingung dalam memutuskan skill apa yang kira-kira bisa diterapkan dalam latihan awal kemandirian pada bayi berumur 15 bulan. 

Sampai akhirnya bocil ini memulai aksi GTM dengan melemparkan makanan yang ia tolak. Maka saya memilih latihan 'menolak dengan benar' pada latihan kemandiriannya yang pertama. Saat memulai skill ini, saya sering merasa kecewa. Kok susah sekali sih hanya untuk membiasakan nya untuk menolak dengan tidak melempar barang.

Pertengahan Jalan Latihan Kemandirian


Nah, ternyata proses latihan kemandirian memang erat sekali kaitannya dengan komunikasi produktif yang ada di game level 1. Kalau emaknya masih tak bisa mengkomunikasikan latihan kemandirian anak dengan benar, berarti sayalah yang harus remedial tentang materi komunikasi produktif tempo hari.

Maka saya memulai kembali menyusun komunikasi yang baik pada manusia yang berumur 15 bulan ini. Tak mudah, tapi ini tentu harus dicoba terus. 

Perihal tak mudah yang saya maksud tentu saja saat menahan intonasi nasihat menjadi sedatar mungkin. Haha, saat ini saya sih menulisnya sambil tertawa, tapi waktu TKP-nya itu..... 

Saya selalu membuat teh susu untuk menenangkan diri saat memulai kegiatan menyuapi. Jadi, ketika anak GTM dan mulai lempar makanan, saya minum dulu untuk menelan emosi.


Akhir Perjalanan Latihan Kemandirian

Saya baru sadar bahwa menjadi orang tua berarti siap untuk tidak akan pernah selesai untuk belajar. Tentang latihan kemandirian 'menolak dengan benar' sepertinya memang sudah mulai menunjukkan hasil yang baik.
Beberapa kali ia mulai menolak makanan dengan cara yang lebih patut dibandingkan biasanya.  Aih, senang nya.

Memang ya, memberi tahu tanpa intonasi tinggi ternyata jauh lebih tokcer. Alhamdulillah, satu skill sudah terlewati, masih mengantri ribuan skill lainnya

Pentingnya Kesadaran Orang Tua

Nah ini dia yang menjadi poin utama dari sesi ini: kesadaran orang tuanya. 

Memang akan jauh lebih mudah kalau kita saja yang membantu mereka terus menerus. Pakai sepatu jadi lebih cepat, proses makan jadi lebih rapi, dan tentu saja tak ada mood swing yang naik turun, haha. 

Tapi, anak adalah milik masa depan, masa yang tidak akan bisa kita masuki, bahkan dalam mimpi sekalipun. Jadi, jangan pernah menyerah ya bunda, meski kita merasa lelah.

Semoga bermanfaat, semangat buat latihan kemandirian yang tak akan pernah usai!

#aliranrasa #gamelevel2 #melatihkemandirian #kuliahbunsayiip #institutibuprofesional

Sabtu, 20 Oktober 2018

Review Woven Wrap Merk Little Frog

Oktober 20, 2018 0 Comments
Hai, hai emak penggendong, selamat pagi!

Assalamualaikum, piye kabare? Semoga selalu sehat dan riang gembira bersama buah hati. Jadi, ceritanya ini saya mendapatkan pinjaman woven wrap (WW) selama seminggu dari teman yang sangat baik hati di komunitas Samarinda Menggendong.


WW warna biru merk Liitle Frog ini memang sedikit bersinar, agak terlihat aura mahalnya, jadi atuuut mau pinjamnya, haha. Tapi rasa penasaran tetap menggelayut dan akhirnya saya putuskan untuk memboyong gendongan ini ke rumah.



Woven Wrap Merk Liitle Frog

Sebelum dapat pinjaman gendongan, sebenarnya saya sudah  tertarik ingin membeli WW. Namun memang belum dapat ACC dari mas suami dengan dalih bahwa sudah ada gendongan di rumah yang masih mumpuni (laki-laki memang tidak mengerti pesona gendongan yang berbeda-beda tiap jenisnya).

Akhirnya saya mentoklah berharap pada Samarinda Menggendong untuk bisa sekadar icip-icip agar tidak kepuhunan (ini istilah orang Samarinda kalau menginginkan sesuatu harus dituruti agar tidak celaka,haha).

Foila, WW berwarna biru Little Frog sudah di tangan, hihi, terima kasih ya mbak Mindy, sudah mau meminjamkan saya WW nya yang cantik ini.


WW Little Frog. Foto: www.instagram.com/Samarinda Menggendong

Cuantik kan warnanya? Saya memang langsung melirik WW warna biru yang sempat jadi inceran banyak emak-emak di sana. WW ini memang terasa lebih lembut dibandingkan dengan WW buatan sendiri (DIY) yang sempat juga saya coba di sana.


WW DIY yang terbuat dari kain katun tersebut memiliki motif batik yang juga cantiiik banget, namun dengan panjang kain yang hanya 3 meter membuat saya kesulitan untuk mengkreasikan bentuk lilitan.



WW DIY yang saya coba di kopdar Samarinda Menggendong. Foto: www.instagram.com/Samarinda Menggendong

Dari segi harga, WW DIY bisa dipatok antara 200-300 ribuan sedangkan WW Little Frog rata-rata di atas 800 ribu rupiah. Semakin panjang ukuran kainnya, maka semakin mahal juga harganya. Untuk gendongan WW warna biru yang saya pinjam ini kemungkinan harganya berkisar 900 ribu rupiah. Hem, lumayan mahal yak, setara anggaran makan indomie anak kosan selama sebulan nih.

Deskripsi Produk Woven Wrap Little Frog


Panjang kain: 4.7 m

Ukuran: 6
Gramasi; 220 gsm
Origin of Country: Poland
TB/BB Ibu: 155 cm/60 kg
TB/BB Anak: 82 cm/8 kg

Kualitas WW Little Frog ini memang sudah tidak perlu diragukan. Kainnya lembut namun kuat adalah pesona utamanya.

Saat mencoba WW ini dengan tehnik FWCC (Front Wrap Cross Carry), sisa kain gendongan masih lumayan panjang, jadi kemungkinan untuk ukuran 5 sudah cukup untuk memfasilitasi bentuk kreasi wrap yang diinginkan. Tapi, ini masih tergantung lagi ya pada besar anak dan penggendongnya.

Keterangan gramasi pada deskripsi di atas adalah berat kain per satuan gram/m2. Gramasi kain ini termasuk ringan dengan panjangnya yang hampir 5 meter.


Beikut foto saya saat menggunakan WW bersama anak sebelum jalan sore.



Saya dan bocil di depan rumah. (dokumen pribadi)


Rasa WW untuk  Saya

Bagimana ya menuliskannya, dari segi nyaman dan enak jelas jawabannya adalah iya. Namun, memang WW tidak menonjolkan fungsi kepraktisan sebagaimana SSC yang mudah dilepas dan dipakai kembali. Jadi, buat saya, gendongan WW memang memilik pesona tersendiri bagi para wrapper yang belum saya pahami 100%.



Yap, begitulah review singkat kali ini. Semoga nanti bisa dapet pinjaman gendongan lain ya, hihi. Untuk kedepannya, saya mengincar gendongan jenis onbuhimo, gendongan yang diadaptasi dari negeri Jepang (untuk lebih jelasnya baca artikel saya yang ini). Sekian, terima kasih.










Cari Blog Ini

Perjalanan Wisata Mengingat Masa Muda di Perpusda

pexels.com Hari Sabtu ini, saya mendadak gelau sepulang jalan-jalan dari perpustakaan. Kok bisa? Lantaran di sana banyak banget mahasis...

Follow Us @soratemplates