Minggu, 19 Mei 2019

Sebuah Renungan Setelah Nonton Drama Korea: Ganteng yang Terlalu Kadang Menjemukan

Mei 19, 2019 0 Comments
Park Bo Gum
pinterest.com/bogum.jp
Park Bo Gum lagi sakit tenggorokan, habis makan ikan asin, terus keselek duri. (hanya khayalan penulis)

Sebenarnya judul yang filosofis di atas hanyalah klise yang menutupi ketidakberfaedahan tulisan saya kali ini. Tulisan ini benar-benar hanya curhat karena sekarang saya sedang dirundung kebosanan. 

Yap, saya sedang sangat bosan dengan wajah oppa-oppa ganteng yang akhir-akhir ini selalu saya tonton dengan tampilan drama thriller ala korea. Saya cukup terperanjat bahwasannya unsur kegantengan bisa membuat rasa bosan. Kadang kalau udah begini, jadi ingat bahwa tak ada satupun yang dapat memuaskan nafsu manusia, kecuali paksaaan diri untuk menghadirkan rasa syukur ke dalam diri. (eeaaaa, jadi sok bijak banget dah).

Drama Korea genre Misteri-Thriller

Drama Korea genre ini cukup diminati penggemar di Indonesia loh. Meski sebenarnya, penggemar di Indonesia memang tidak pernah pilih genre. Semua dihantam rata asalkan pemainnya cukup menyegarkan seperti minuman kaleng di siang hari saat bulan Ramadhan.

Kasus misteri yang disuguhkan juga cukup menegangkan. Namun, terkadang balutan drama yang terkesan berlebihan dapat mengurangi rasa misterinya. Imbasnya ialah membuat drama ini secara keseluruhan kehilangan identitas dan rasa sebagai genre misteri detektif. Eits, tapi itu menurut saya loh ya.

Seperti You're All Sorrunded termasuk yang terlalu banyak terinfiltrasi kisah cinta daripada kasus pembunuhannya. While You're Sleeping termasuk pertengahan lah, kasusnya lumayan banyak dan menarik. Seimbang dengan komposisi adegan pacarannya. Menurut saya drama kore amisteri yang oke punya ialah Bad Guys. Drama Korea ini memiliki komposisi cinta-cintaan yang hanya berkisar antara 15-20 persen, sisanya murni adegan action dan kasus pembunuhan yang mendebarkan.

Drama Korea genre Romantis Komedi

Ini jenis genre yang paling banyak mendapat tempat di hati pemirsah, termasuk saya. Drama berjenis ini ada buanyaaaak jenisnya dalam jagad raya dunia drama Korea. Ada beberapa yang saya suka seperti She Was Pretty, Go Back Couple (yang ini rekomended banget buat pasutri tonton bersama). 

Sisanya seperti Romance is A Bonus Book (mengengkat soal dunia penerbitan), What's Wrong with Secretary Kim tergolong biasa-biasa saja. Walapun jelas definisi biasa aja itu artinya masih lebih bagus ketimbang drama sinetron di televisi tiap siang hari.

Oh iya, saya jadi mengingat satu lagi drama Korea yang sempat menghebohkan jagad raya Indonesia yaitu Encounter yang dibintangi mamas Park Bo Gum dan mbak Song Hye Kyo tempo hari. Menurut saya, jalan ceritanya terlalu klise, wkwk. Bukannya jelek, tapi kok ya ada tokoh seganteng dan sebaik Park Bo Gum sih dunia nyata? Adegan romantisnya juga kelewat banyak. Drama ini berhasil bikin halu para cewek dan emak di seluruh asia, Btw, emak-emak eropa senang nonton drakor, gak ya? Atau mereka hobinya nonton Netflix? Di netflix juga ada drama Koreanya kan?

Drama  Kehidupan

Ada yang unik dalam siklus perdramakorean-an dalam diri saya. Ketika saya lagi keranjingan marathon nonton drama Korea, sejenak saya lupa soal urusan drama biaya popok, artikel yang tak masuk redaksi basabasi, atau soal lomba-lomba menulis yang sudah dekat deadline. Ini baik dan tidak. Baiknya saya jadi lebih rileks, buruknya saya jadi terlalu rileks. Padahal kan ya mengatur ritme kehidupan agar senantiasa konstan juga diperlukan agar bisa terus melakukan kemajuan tanpa harus menjadi tertekan.

Ketika saya sudah menyelesaikan drama dan tak lagi mendapat pasokan drama baru atau minimal buku bacaan baru, biasanya saya terus merongrong suami. Ada saja keluhan panjang yang mesti ia dengar sepanjang saya tak punya buku atau film untuk ditonton. Kalau sudah begini, biasanya di akhir pekan saya akan diajak ke toko buku, wkwk. 

Awalnya saya sangat senang karena merasa memiliki suami yang romantisnya gak kalah sama drama Korea. Tapi setelah saya tanyakan langsung ia menjawab bahwa ia melakukan ini agar dirinya bisa kembali main PES dengan damai, tanpa gangguan istrinya yang punya terlalu banyak waktu luang. Seketika saya unsintal game PES di laptop.

Yang jadi pertanyaan ialah baguskah untuk melarikan diri dalam buku bacaan atau film ketika sebenarnya ada kepelikan hidup yang harus segera diselesaikan?

Saya pun tak tahu jawabanya. Mungkin tergantung seberapa peliknya. Ketika buku dan film setidaknya bisa mengisi otak agar tak mati dan bisa tetap waras, saya rasa itu masih baik-baik saja. Sepanjang anak dan cucian piring masih terurus dengan baik. 

Soal kehidupan yang kadang terasa getir kayak kopi hitam tanpa gula, rasanya itu berlalu pada seluruh umat manusia. Tak ada yang murni bahagia. Bahagia mungkin adalah pilihan hidup individu masing-masing bukan soal takdir dari Tuhan. Saya pun tak tahu dan masih ragu-ragu. Jadi, apa intinya artikel ini? Tidak ada intinya. Jangan dibaca, mending segera baca Quran supaya bisa upload di Pesbuk kalau sudah khatam! 







Selasa, 30 April 2019

Menulis Novel Dalam Sebulan

April 30, 2019 0 Comments


Dear Mak emak

Bukan April kemarin saya mengikuti kompetisi menulis novel dalam sebulan yang diadakan Storial.co.

Banyak hal yang terungkap dalam diri saya selama proses penulisan maraton ini, salah satunya adalah ternyata menulis novel itu mudah, hahaha. ASAL, tiap pegang hape ga buka medsos atau ngeyoutube atau nonton Drakor di Viu.

Berikut beberapa hal yang saya temukan dalam perjalanan mengerjakan draf tulisan tiga puluh ribu kata dalam sebulan.

Pentingnya kerangka dan alur cerita

Langkah pertama ketika mengikuti kompetisi ini ialah menulis kerangka cerita dari awal sampai ending. Jadi, dari awal saya sudah tahu apa konflik yang ingin disampaikan dan bagaimana ending yang saya inginkan.

Tapi, realita memang sering tak sebagus ekpekstasi. Dan perjalanannya pun tak bisa semulus kerangka cerita, wkwk. Ada beberapa bagian yang terpaksa harus mengalami perubahan (walaupun tak signifikan), tergantung dari mood saya menulis.

Ketika menulis bagian konflik, saya membuat banyak perubahan dalam alur kejadiannya. Yang awalnya saya buat sedemikian rumit, kemudian saya pangkas agar lebih ringkas. Saya menyadari di pertengahan jalan bahwa konflik yang saya usung berasa kaya sinetron Indonesia, too much problem.

Selama menulis buku ini, saya juga nyambil baca buku Haruki Murakami 1Q84. Saya banyak belajar dari buku ini cara membuat deskripsi dengan detail. Saya sebenarnya agak kesal sekaligus kagum. Bagaimana bisa sebuah buku yang isinya lima ratus halaman, tapi tidak memberikan solusi atas konflik yang sudah disampaikan. Pemaparan yang sangat detail tapi tetap menarik mengenai tokoh-tokohnya membuat saya sangat menikmati lima ratus halaman tanpa merasa lelah.

Buat saya, kerangka cerita juga berfungsi sebagai lampu jalanan ketika sedang mengalami kebuntuan menulis. Kerangka cerita adalah peta perjalanan. Dengan peta yang jelas, saya jadi tahu harus pergi ke mana. 

PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia)

Ini dia musuh sejati penulis amatir macam saya ini. Hanya untuk memutuskan mau memilih kata 'kemana' atau 'ke mana' saja menghabiskan tiga puluh menit sendiri. Setelah itu efek sampinganya adalah pusing yang berujung dengan mogok nulis cuman gegara mikiran dipisah atau digabung.

Tapi, berkat Uda Ivan Lanin dan twitternya, saya banyak tertolong. Tinggal ketik pertanyaan di gugel, ditambahkan dengan kata ivan lanin, tratatata, problem solved.

Encok tangan

Sebelumnya, saya hanya menulis  setidaknya 10-15 artikel per bulan. Itu artinya saya hanya merangkai sekitar 8-15 ribu kata saja per bulan. Sedangkan untuk membuat cerita ini saya membutuhkan minimal tiga puluh ribu kata, yang artinya saya butuh dua-tiga kali lipat usaha yang dibutuhkan dari sebelumnya.

Buat butiran jasjus macam saya ini, jelas ini adalah tantangan baru yang terlihat melelahkan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan encok tangan. Dari kepalan sampai jemari tangan berasa kebas. Sekadar untuk mengupil saja rasanya berat sekali. Saya bangga sekali sudah pernah merasakan pegal begini untuk pertama kalinya.

Tamak

Ini dia penyakit hati yang membaut semangat menulis saya sempat merosot tajam. Motivasi menulis novel ini hanya bertujuan untuk menyelesaikannya sampai akhir. Agar saya setidaknya punya riwayat pernah menyelesaikan sebuah novel.

Tapi, dalam perjalanannya cerita saya ini dibaca sampai seribu kali. Hati saya membumbung tinggi, dan saya ingin lebih.

Saya mulai membaca karya lain dan mulai membanding-bandingkan. Benar-benar tipikal amatiran ya begini ini, gak fokus. Wkwk. Tapi untung saja saya segera bisa kembali ke laptop dan kembali menulis.

Saya terus mengatakan dalam hati bahwa seribu views itu bukanlah apa apa. Karena lima ratus kalinya adalah views dari diri sendiri yang sedang melakukan self-editing.

Bahan renungan diri

Selama menulis maraton, saya jadi tersadar akan sesuatu hal yang penting yaitu betapa susahnya menyampaikan gagasan dengan bahasa yang apik. Saya sering banget mengeluh tentang karya amatir di app Wattpadd. Jelek lah, narasinya gak oke lah, konfliknya kurang menggigitlah.

Setelah saya bukan lagi konsumen, melainkan ikut-ikutan jadi produsen, saya jadi bisa menghargai semua jenis tulisan, apapun genrenya, bagaimana pun bentuknya. Setidaknya saya sudah tahu, bahwa ada begitu banyak riset, lelah, encok tangan yang mereka sudah lalui demi rangkaian kata-kata yang tersedia gratis.

Perayaan di depan garis finish

Ini dia yang menarik. Saya sudah menyelesaikan cerita ini dari sejak tanggal dua puluh lima. Tetapi publish cerita ending baru di tanggal dia puluh sembilan. Alasannya tak lain dan tak bukan ialah saya sedang melakukan perayaan di depan garis finish.

Tepat ketika saya tinggal menyelesaikan satu bab terakhir, saya mengalami kebuntuan lagi. Karena merasa hanya tinggal satu bab lagi saja, saya langsung mengisi kebuntuan dengan nonton anime dan drakor. Dalihnya sih untuk mencari inspirasi.

Untungnya, menjelang tanggal dua puluh delapan saya kembali sadar untuk keep on the track. Kan gak lucu kau saya gagal menyelesaikan hanya karena tidak melakukan langkah terakhir menuju garis finish.

Saya menemukan artikel yang juga membahas penyakit writer's block menjelang ending. Katanya kita memang kerap dilanda penyakit ini menjelang ending, karena merasa sudah menyelesaikan cerita, padahal belum.


***


Saya sangat senang sudah merasakan pengalaman menulis maraton selama sebulan ini. Pengalaman sebagai book review Storial juga banyak membantu saya belajar bagaimana menyusun kata-kata dengan tepat.

Bagaimanapun, karya saya yang ini pastilah berasa kayak limbah. Banyak kata-kata yang tak tepat untuk mendeskripsikan cerita dan konflik yang diusung tidak menggigit (seperti yang selalu saya keluhkan untuk karya orang lain). 

Tapi, saya akan terus berharap bahwa ketika nanti, tiga tahun lagi saya membaca karya perdana ini, saya tertawa dan mungkin merasa jijik. Pertanda saya sudah tak lagi berada di tangga yang sama.

Semangat Mak emak. Keep moving forward!

Jumat, 08 Maret 2019

Budaya Pasar Malam: Ajang Ngejajan Street Food di Samarinda

Maret 08, 2019 0 Comments
Pasar Malam Samarinda Jajan Street Food


Budaya pasar malam dimulai di Samarinda ketika saya kelas empat SD, berarti itu sekitar 20 tahun yang lalu. (Hiks, tolong... saya sudah tua)

Pasar malam di kota Samarinda selalu berpindah dan punya jadwal tersendiri, tergantung daerahnya. Kalau di Loa Bakung, tempat saya tinggal, pasar malam diadakan setiap malam Minggu dan malam Kamis.

Buat saya pasar malam emang Jadi tempat yang asyik lah buat cuci mata. Oh iya, definisi pasar malam di sini hanyalah sekumpulan abang-abang penjaja 'makanan pinggir jalan' loh ya, bukannya pasar malam yang ada wahana permainan seperti di film Upin dan Ipin. Jadi, momen pasar malam cucok banget buat jalan plus cemil-cemil bersama keluarga. 

Yang paling saya suka dari pasar malam ialah melihat euforia masyarakat yang mendadak ceria, menikmati kerumunan orang sembari membeli gado gado atau pentol bakar, dan tentu saja nyambil membakar lemak di badan dengan jalan-jalan santai bersama bocil. (wkwk, alasan terakhir sangat klise)

Contoh wisata street food ala pasar malam yang bisa ditemui di youtube adalah videonya Ria SW, ketika lagi melawat ke Taipei. Ada begitu banyak abang-bang yang bisa dipilih jajananya di sepanjang malam. Nah, kurang lebih begitulah gambaran pasar malam di Samarinda. Tentu saja di sana lebihnya di sini kurang nya, heuheu.

Berikut beberapa jajanan street food favorit saya.

Kentang Tornado

Jajanan Pasar Malam Samarinda Kentang tornado
[dokumen pribadi] Abang penjual kentang tornado di pasar malam daerah  Loa Bakung. Abaikan warna minyak gorengnya ya. 

Ini adalah jajanan yang selalu hits, bahkan Ria SW juga membeli ini dalam video jalan-jalannya di Taipei. Dengan kata lain ini adalah jajanan internasional mak!

Dengan harga 5 ribu, saya rasa dari segi ukuran dan rasa sudah sangat mantaaps lah.
Jajanan kentang tornado ini juga termasuk legendaris dan selalu ada di setiap pasar malam maupun tongkrongan di tepian Sungai Mahakam. Mungkin karena rasanya yang gurih-gurih, bermicin dan enak, maka jajanan ini termasuk rasa yang disukai semua manusia bumi datar maupun bulat.

Pentol Bakar

Jajanan Pasar Malam Pentol Bakar
[dokumen pribadi] Abang pentol yang sedang sibuk bakar-bakar.

Wah, ini salah satu jajanan aci yang uenaaak banget menurut saya. Tapi level enaknya juga tergantung sama abang yang jualan loh. Ada beberapa babang yang rasa pentolnya bisa maknyus banget, tapi ada beberapa yang cuman berasa tepung doang. Yah, ibarat jodoh, pentol bakar juga harus dipilih-pilih.

Bingka Kentang

Jajanan Pasar Malam Bingka Kentang
[dokumen pribadi] Abang bingka kentang yang gaul banget.

Ini dia jajannya khas asli Banjarmasin yang bisa dicicip di Samarinda. Mungkin ini pengaruh dari banyaknya penduduk Kaltim yang juga berasal dari suku Banjar. Abang-abang penjual bingka di foto atas adalah satu-satunya penjual bingka yang antriannya puaaaanjaaang.


Agak berbeda dari penjual bingka yang biasa, beliau ini memasak bingkanya on the spot. Jadi, ini adalah kali pertama saya mencicip bingka dalam keadaan panas.

Soal rasa jangan ditanya kali yak. Dalam keadaan dingin aja bingka kentang bisa terasa begitu manssstap, apalagi kalau fresh from the oven. Kemantapan yang kuadrat.

Et, tapi bingka kentang itu sama aja kaya pentol bakar. Cita rasanya amat tergantung dari abang yang membuat.

Sekian cerita soal jajanan pasar malam dari saya. Cerita nostalgia soal pasar malam ketika SD ialah ketika saya harus membeli topi gegara rambut yang tidak sengaja terpotong terlalu pendek, sampai bisa berdiri macam anak lelaki. Heuheu, saya malu banget waktu itu. 

Saya memilih topi warna merah seharga 10 ribu, yang sekarang sudah entah ada di mana. 

Jadi, kalau emak-emak di rumah suka jajanan street food apa? 

Rabu, 27 Februari 2019

Aliran Rasa Game Level 6 : Menstimulasi Anak Gemar Matematika

Februari 27, 2019 0 Comments
Kelas Bunda Sayang Game Level 6

Matematika, ini adalah kata momok yang banyak dibenci siswa dari kecil sampai yang sudah jadi mahasiswa, termasuk saya.... pake banget.

Semua emak-emak pasti pernah mendengar pelajaran kalkulus, mata pelajaran yang bisa bikin sakit tapi tak berdarah dalam sanubari. Ketika kuliah, buat saya kalkulus adalah kiamat sugra (maafkeun, saya memang lebay). Huhu, sedih sih, semoga anak saya tidak menjadi seperti emaknya yang benci pada matematika.

Kisah pada Game Level 6

Bocil memang masih berumur 20 bulan, sehingga matematika dasar yang dicanangkan dalam game ini sederhana, seperti mengenali bentuk kecil dan besar, atau tentang perbedaan temperatur air, serta tentang logika dasar lainnya.

Kisah yang cukup saya ingat ketika game ini masih berlangsung ialah ketika membandingkan anggota tubuhnya dengan anggota tubuh hewan, yaitu kucing. Ada perbedaan mendasar pada tubuh hewan dan manusia yang sedikit membuat ia kagok alias bingung. Ia jadi sering menirukan telinga kucing atau juga menirukan paruh burung yang cendering lebih besar dari manusia. Yah, seperti itulah.

Ketika bermain di papan seluncur, ia juga cukup antusias melihat mobil-mobilan meluncur dengan cepat pada bidang miring seperti itu. Saat bermain temperatur air, membedakan mana suhu dingin dan yang hangat, ia juga terlihat bahagia. Semoga semangat dan kebahagianya dalam belajar akan terus hidup dalam dirinya.

Kisah Kegalauan Emaknya

Setelah tua begini saya baru menaydari apa makna dari mata kuliah kalkulus yang dulu terasa sangat tidak berguna nan sia-sia, yaitu untuk belajar bagaimana caranya belajar. 

Ketika jadi emak-emak dan munculah masalah keterbatasan waktu untuk bisa meninggalkan rumah, metode belajar matematika dasar sangat terpakai untuk bisa menggeluati bidang lain dari rumah. Baik itu, kegiatan mencari kemudian, mengamati, mengelompokkan, serta mengenal pola, dan mencocokan, adalah dasar logika yang saya sangat gunakan ketika pertama kali menggeluti bidang blogging. 

Kegiatan ATM, amati, tiru, modifikasi, mungkin juga bagian model dari logika dasar matematika yang kita pelajari prinsip-prinsipnya di sekolah.

Matematika juga mengasah logika, sehingga ketika jatuh cinta kita terhindar dari penyakit BUCIN yang mematikan. Ada yang tahu bucin? Budak Cintaaaa... #eeeaaa, topik aliran rasanya mulai melenceng.

Matematika merupakan pondasi dasar logika agar kita sebagai manusia dapat meletakkan segala sesuatu pada nilai objektifitasnya. 

Yah, sudah sekian aliran rasa yang mulai melantur ini. Semoga bermanfaat ya emak-emak. Keep learning bersama buah hati kesayangan.

Sabtu, 23 Februari 2019

Ketika Passion Terbentur Dinding Utopis

Februari 23, 2019 0 Comments
Mark Manson Passion yang Terbentur

Saya baru saja merampung kan buku motivasi yang luar biasa menarik, yakni Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya om Mark Manson yang fenomenal itu. Saya memang jarang membaca buku motivasi karena biasanya di bagian prolognya saja sudah sangat membosankan. Tapi, buku ini memang berbeda, karena ditulis dengan kelugasan khas anak 'rebel' ala amerika. Jadi, saya rasa om Mark Manson berhasil menggunakan masa lalunya yang buruk menjadi cambuk untuk kembali merenungi arti bahagia dalam ukuran masing-masing.

Tapi, yang mau saya bahas bukan bodo amat soal definisi kebahagiaan, tapi soal passion. Akhir-akhir ini saya berasa sedang berada di depan tebing terjal, rasanya kok cita-cita jadi penulis rasanya adalah hal muluk yang utopis. Ceileh... u t o p i s...

Saya akui, di tengah 'banyaknya waktu luang' sebagai emak rumah tangga, kegiatan menulis memang jadi selingan yang luar biasa membahagiakan sealigus memusingkan. Pusing, karena emak-emak lain sudah jago dan apik banget menulisnya, sedangkan saya masih berasa jadi remah rengginang melulu dari dulu. Pengennya sih saya bisa sombong sedikit gitu loh, tapi kesempatannya belum ada sampai sekarang, hiks ...syedih euy.

Saya berasa udah jatuh baangun, kepeleset, salto-salto, dan hasilnya masih belum terasa sampai sekarang. Dan kalau sudah begini, hasrat menulisnya bisa surut berbulan-bulan. Ini yang disebut dalam buku om Mark sebagai passion yang salah. Mungkin kita bukan suka menulis, melainkan perayaan kesuksesan lewat menulis?

Setelah saya membaca bukunya om Mark, saya jadi kembali berpikir soal hobi ini. Saya sudah bertahun tahun menulis diari tanpa pernah mengaharapkan uang sama sekali. Ya, eyalah... siapa yang mau membayar untuk sebuah catatan harian (kecuali diarinya Anna Frank dan kisah kejombloan Raditya Dika). Dan rasanya memang saya harus membuang pikiran soal timbal balik untuk sebuah kebahagiaan lewat hobi.

Ada banyak sumber kebahagiaan selain uang, seperti kata om Mark, semua sumber kebahagiaan itu ada di dalam diri. Sebaliknya, hampir semua kesukaran itu karena harapan kita pada hal yang diluar diri, seperti uang, terkenal, dan disukai semua orang. Hal ini serupa dengan kata-kata dari Ali Bin Abi Thalib, 


Aku sudah pernah meraskan semua kepahitan hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.


Selama masa rehat menulis, rasanya yang ada saya semakin gila, hahaha. Ternyata memiliki kekhawatiran lain selain soal anak itu adalah kemewahan yang perlu disyukuri. Gegara tak punya perjuangan lain selain soal rumah, saya jadi sensitif dan mudah mengamuk cuman gegara handuk basah yang ditaruh di kasur. Gak enak banget lah jadi emak-emak tukang marah itu, lelah di fisik dan jiwa say. 

Jadi, rasanya saya menyadari bahwasannya rasa was-was menjelang pengumuman kompetisi menulis, rasa iri dengki pada blog emak-emak lain, dan rasa lelah ketika melewati tengah malam cuman untuk menulis gratis di web kompasiana adalah sebuah kebahagiaan. Tanpa adanya rasa pahit dari kekhawatiran semacam ini rasanya justru kehidupan berasa seperti sayur tanpa micin, tidak umami, hahaha. 

So, emak-emak manapun yang sedang berjuang, ada yang berjuang lewat lelahnya jam kerja, dan ada juga yang berjuang lewat tumpukan cucian piring, kita memiliki jalan perjuangan masing-masing. Yuk, yuk, yuk menikmati hidup dengan menggali rasa cukup di dalam diri. Seperti kata Om Mark dan ajaran agama Islam bahwa bersyukurlah, maka akan Kami tambah nikmatnya. 

Minggu, 10 Februari 2019

Perjalanan Wisata Mengingat Masa Muda di Perpusda

Februari 10, 2019 0 Comments
Perpustakaan sebagai wisata keluarga
pexels.com

Hari Sabtu ini, saya mendadak gelau sepulang jalan-jalan dari perpustakaan. Kok bisa? Lantaran di sana banyak banget mahasiswa yang membuat saya iri setengah mati, geliat rasa lelah gegara drakor tugas, rasa sibuk menjelang ujian, sampai perasaan senang ditemani menyusun skripsi bareng doi (saya jomblo ketika kuliah, jadi gak sempat merasakan poin yang terakhir).

Perpustakaan Daerah Kalimantan Timur

Perpustakaan ini terhitung luas, memiliki 3 lantai dengan ruangan yang amat banyak. Lantai pertama, ada ruang baca anak, ruang majalan, ruang internet, WC, dan kantin. Di lantai dua ada buku-buku literatur seperti metode penelitian, buku kesehatan, akuntansi, dan semua tetek bengek perkualiahan lah. Di lantai tiga-lah, saya sering berpesta sendiri, tempat di mana banyak novel gratis bisa dibaca sampai puas anak minta pulang.

Di lantai satu, ruang baca anak, saya dan tim (mas misua dan bocil) sering mangkal. Di sini tempatnya sangat nyaman, karena ada karpet, full-Ac, dan juga ada ruangan menyusuinya. Bahkan ada juga tempat bermain untuk anak, ada rumah-rumahan plastik dan seluncuran juga. Pokoknya, nyaman bangat lah. 

Meski koleksi buku anak versi boardbook tidak terlalu banyak (meski ada, kadang banyak yang sudah rusak), tapi semua terbayarkan oleh tempat yang sangat nyaman begini. Nongkrong di perpustakaan memang jadi opsi yang menyenangkan bagi keluarga kami untuk melewati hari akhir pekan ketika tanggal tua. Ngirit Mak.

Di lantai dua, karena memang banyak buku tetek bengek perkuliahan, maka disini didomiinasi anak kuliahan dan pelajar. Hari ini saya mendadak terkena nostalgia, ketika melihat segerombolan mahasiswa sedang ribut mendiskusikan satu hal. Seingat saya, saya tak pernah sesemangat itu saat berada di perpustakaan ketika kuliah. Saya selalu mendadak ngantuk kalau sedang di sana. Gegara mereka yang berisik itulah, saya jadi penasaran dan mengelilingi rak-rak buku di lantai dua hari ini.

Ternyata, hanya karena kepo, saya menemukan ada banyak hal menyenangkan yang bisa dilihat. Mulai dari diskusi antara geng lelaki yang tersembuyi di balik rak buku paling belakang, yang hampir saya yakini bukan mendiskusikan tentang pelajaran. Kemudian, ada juga sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat membagi senyum manis dari masing masing-masing saat mencari buku bersama di rak, hahaha. Masa muda memang masa yang berapi-api. Dan ada juga sekelompok mahasiswa yang sedang asyik mencatat poin pelajaran dalam buku tulisnya, asyik sekali.

Kembali ke Realita

Setelah saya menemukan buku yang menarik minat hati, saya memutuskan kembali ke ruang anak, di mana mas misua dan bocil sedang bermain bersama. Cukup mengasyikkan juga mengamati perilaku anak anak muda karena selama ini yang saya lihat sehari-hari hanya anak bayi dan 1 lelaki paruh baya yang guanteeeng, hahaha.

Ketika sedang jenuh dan mencuci piring berasa jadi siksaan romusha, mungkin ada baiknya berhenti sejenak. Buka YouTube, dan streaming gerakan yoga ringan, atau jalan jalan bersama emak emak lain ke mal buat nobar, atau juga sekadar membaca buku. Rehat buat ibu rumah tangga adalah poin penting agar bisa melihat visi dan misi penting di balik rutinitas cuci piring yang terlihat sepele.

Sekianlah random thought saya hari ini. Selamat rehat.


Kamis, 31 Januari 2019

Aliran Rasa Game Level 5: Menstimulasi Anak Gemar Membaca

Januari 31, 2019 0 Comments
Menstimulasi anak gemar membaca

Dear emak-emak

Akhirnya, setelah saya membolos di aliran rasa yang ke 4 gegara riweuh pulang kampung, sampai juga perjalanan belajar ke game selanjutnya, menstimulasi anak gemar membaca.
Dibandingkan game level lainnya, rasanya game ini agak berbeda, karena membaca adalah hobi sekaligus pengisi me time saya di kala bocil lagi bobo. di kala bermain pun, saya sering  terlihat baca buku, sehingga bocil dengan mudah tertular untuk mengikuti kebiasaan ini. Tantanganya justru terletak pada mas misua.

Kisah game level 5

Kisah Bocil. Saya sudah sering membacakan buku setiap momen sebelum tidur. Kadang di waktu bermain, saya dan bocil juga sering melakukan kegiatan membaca bersama, tepatnya sih saya yang membacakan.

Reaksi yang bocil tunjukkan saat sedang dibacakan bervariasi. Kadang terlihat sangat antusias kadang juga bosan dan melipir untuk mengambil permainan yang lain.

Peristiwa lucu yang saya ingat ialah ketika saya menjelaskan masjid sebagai tempat ibadah umat Islam. Ia menunjuk gambar masjidnya sambil bilang gol gol. Jadi, ceritanya itu, tiap sore bocil dan saya sering nonton pertandingan futsal anak-anak di halaman belakang masjid dekat rumah. Jadi, setiap dia lihat masjid di bukunya, ia malahan teriak gol.

Kisah Saya, as emak-emak.Untuk saya kegiatan membaca masih terus berjalan meski ya tersendat karena banyak film Korea baru, hahaha. Buku terakhir yang saya baca berjudul Saman dan reviewnya bisa dibaca di blog saya yang ini. Beberapa pekan terakhir ini, saya membaca bukunya Ayu Utami.

Warbiasah banget ya emak yang satu ini. Keren banget lah buku-bukunya. Ia berani menunjukkan nilai-nilai atau peristiwa yang selama ini tabu untuk didiskusikan. Di bukunya Saman, ia banyak membahas tentang bagaimana orde baru menggilas banyak HAM rakyatnya sendiri. Di bukunya Bilangan Fu, Ayu Utami banyak membahas perihal takhayul khas Indonesia beserta maknanya yang menurut saya diulas beliau dengan sangat mendalam sekaligus menarik.

Berikut adalah cuplikan kalimat dalam bukunya mak Ayu,

"Takhayul memiliki tujuan yang lurus, tapi tidak jalan yang lurus.
Sedangkan modernisme memiliki jalan yang lurus, tapi tidak tujuan yang lurus."

Contoh takhayul penunggu hutan, memiliki tujuan agar manusia tak mengeruk hutan secara membabi buta. Sedangkan modernisme seirngkali hanyalah alat kepentingan individu, sedangkan takhayul adalah alat untuk kepentingan bersama.

Kisah Mas Misua. Agak susah menularkan suka baca sama mas misua, mungkin karena memang bukan hobinya. Tapi kan ya, sesuai sama  kata-katanya mbak Najwa, cukup temukan satu buku yang akan membuatmu jatuh cinta. Pada awalnya ia tak pernah suka kalau diajak ke perpusda, namun sekarang ia sudah bisa menikmati karena sudah menemukan genre buku yang ia sukai. 

Yah, itu sih aliran rasa saya di game kali ini. "Bisa membaca adalah sebuah keberkahan, dan suka membaca adalah sebuah kebahagiaan" Goenawan Muhammad. Yuk, mak-emak digas teroos semangat bacanya!!

Cari Blog Ini

Sebuah Renungan Setelah Nonton Drama Korea: Ganteng yang Terlalu Kadang Menjemukan

pinterest.com/bogum.jp Park Bo Gum lagi sakit tenggorokan, habis makan ikan asin, terus keselek duri. (hanya khayalan penulis) Sebenarn...

Follow Us @soratemplates