Akhir tahun 2018 kemarin saya habiskan di rumah kelahiran mas misua, Makassar. Dibandingkan Samarinda, jelas kota Makassar sudah jauh melangkah menjajaki level metropolitan lebih dahulu dengan tajamnya rasa macet plus panas yang gak ketulungan.
Berada di lokasi strategis sebagai gerbangnya Indonesia Timur, Makassar tumbuh persis seperti Surabaya, gerah gegara aktivitas pabrik dan kemacetannya. Yah, untuk sebuah kota yang maju memang inilah harga yang harus selalu dibayar.
Sebenarnya di balik itu semua, kota Makassar tetap punya pesona yang membuat saya selalu rindu. Selain Pantai Losari-nya yang ternyata di bawah ekspektasi, ada banyak hal lain yang justru jadi tumpuan kerinduan buat saya ketika kembali ke Samarinda.
1. Kampoeng Poepsa
![]() |
Pemandangan kafe Kampoeng Poepsa: siluet aktivitas pelabuhan di kala senja. |
Awalnya saya agak memaksa mas misua sih supaya mau nongkrong saat senja di kafe yang menghadap laut seperti Kampoeng Poepsa ini. Terletak tepat di samping pelabuhan, membuat pemandangan kafe ini benar benar manis. Perahu yang tertambat, matahari senja, dan angin pantai semilir membuat momen nongkrong semakin asyik.
Cocok banget sih ini jadi tempat nulis atau sekadar nongkrong merenungi hidup, hahaha. Soalnya, tempatnya enak plus punya menu yang buanyaaak banget, jadi bisa betah berlama-lama.
Berhubung saya ke sininya bawa bocil, jadilah kami berdua gak kaya pasangan anak muda lain yang bisa bercengkrama romantis sambil minum es kelapa. Kami bergantian menemani bocil yang tidak berhenti bergerak. Bocil terus merengek minta ke pinggir dermaga, dan begitu es kelapanya datang ia mendadak ambisius untuk minum kelapa tanpa sedotan, langsung pakai tangan (Indonesia banget). Omaigat!
2. Mal Gaya Industrialis.
![]() |
Mal Nipah, salah satu mal yang punya konsep bangunan bergaya industrialis. |
Nama mal ini adalah Mal Nipah. Btw, mal ini dibangun oleh Kalla grup loh, grup perusahaannya bapak wapres, Jusuf Kalla. Kalla Grup memang banyak menguasai aset penting di Makassar. Salut lah sama bapak wapres, enterpreneur sejati!
Mal Nipah ini agak lain dibandingkan mal lainnya. Dengan bangunan yang bergaya industrialis, ditambah dengan konsep open space, membuat saya ketagihan datang ke sini. Di atap malnya pun ada mushola plus taman yang kece banget. Kalau tujuan ke mal cuman untuk cuci mata, mending datang ke sini aja.
Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan berkunjung ke Mal Nipah dalam kondisi hujan. Berhubung konsep mal Nipah adalah open space, jadi kita bisa sedikit menonton hujan dari dalam mal. Ada semacam saluran air yang membuat hujan jadi semacam air terjun mini di dalam mal lantai dasar. Tapi sayangnya saya gak punya fotonya, maaf yak.
Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan berkunjung ke Mal Nipah dalam kondisi hujan. Berhubung konsep mal Nipah adalah open space, jadi kita bisa sedikit menonton hujan dari dalam mal. Ada semacam saluran air yang membuat hujan jadi semacam air terjun mini di dalam mal lantai dasar. Tapi sayangnya saya gak punya fotonya, maaf yak.
3. Ketagihan Pecel
Meski bukan daerah asli pecel, justru di Makkasar saya menemukan pecel yang nagih banget.
Sebenarnya definisi pecel di sana agak berbeda dengan pecel kebanyakan. Kalau biasanya, pecel itu adalah nasi plus sayur yang disiram dengan sambal kacang, di sana tak ada nasi, sebagai gantinya adalah potongan lontong. Makanya saya bilang kalau definisi pecel di sana agak berbeda, lebih mendekati gado-gado kan ketimbang pecel.
Btw, penjualnya itu asli Jogja, dan beliau berjualan untuk membiayai kuliah anaknya. Salut saya sama beliau ini, yang bisa survive di Makassar dan bahkan mampu berbahasa Bugis.
4. Joging Pagi di Sepanjang Jalan Raya
![]() |
Ilustrasi jalan raya. |
Kembali ke topik. Rumah suami saya terletak di tengah kota, jadi agak susah untuk bisa menentukan rute yang sepi untuk jogging. Tapi ternyata, jalanan tengah kota pun bisa jadi pilihan yang baik untuk trek jogging.
Tepat setelah sholat subuh, saya dan suami, tanpa bocil, memutuskan untuk jogging di jalan-jalan raya yang masih sepi. Ditemani udara Makasar yang ternyata bisa juga terasa sejuk. Matahari yang masih sembunyi, membuat pemandangan pagi semakin manis dalam balutan warna kelabu. Sambil berlari, kami mengobrol tentang hal yang tak jelas, mulai dari tabiat bolosnya ketika masih bocah sampai tentang kamvret dan kecebong.
Saya cukup kaget karena ternyata ada banyak orang lain yang juga jogging sepagi ini. Ada bapak tua bersama sepedanya ada juga mbah-mbah sehat yang terlihat lebih kuat stamina larinya dibandingkan kami yang masih muda ini.
5. Coto Gagak yang Melegenda
![]() |
Mas Misua yang sedang khilaf di warung Coto Gagak |
Ini dia destinasi kuliner yang hampir pasti didatangi setiap orang yang sedang bertandang ke Makassar: Coto Gagak. Kuliner ini adalah Coto Makassar seperti biasa yang terletak di Jalan Gagak.
FYI, Atta Halilintar pun datang ke sini loh pas doi lagi main ke Makassar (informasi yang tak berfaedah).
Coto Gagak memang agak berbeda dengan coto lain yang pernah saya cicipi. Bumbunya yang terasa sangat tepat inilah yang membuat ia begitu terkanal. Saya juga agak kecanduan sih sama coto yang satu ini dan beberapa kali merengek supaya diantar jajan ke tempat ini.
Sekian cerita saya ketika di Makassar. Meski gak bisa bawa oleh-oleh seenggaknya saya bawakan oleh-oleh berupa cerita ga masalah kan? Btw, harga tiket pesawat sekarang mahal banget yak. Semoga harga transportasi alternatifnya seperti kereta dan kapal laut masih bisa stabil, sehingga tetap bisa rutin pulang kampung.
Selamat travelling mak emak.
Coto Gagak memang agak berbeda dengan coto lain yang pernah saya cicipi. Bumbunya yang terasa sangat tepat inilah yang membuat ia begitu terkanal. Saya juga agak kecanduan sih sama coto yang satu ini dan beberapa kali merengek supaya diantar jajan ke tempat ini.
Sekian cerita saya ketika di Makassar. Meski gak bisa bawa oleh-oleh seenggaknya saya bawakan oleh-oleh berupa cerita ga masalah kan? Btw, harga tiket pesawat sekarang mahal banget yak. Semoga harga transportasi alternatifnya seperti kereta dan kapal laut masih bisa stabil, sehingga tetap bisa rutin pulang kampung.
Selamat travelling mak emak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar